RENGKUHAN PERPISAHAN DARI SANG LANGIT (TRAVEL SERIES KARIMUNJAWA PART 3)

By Kartikanofi - Mei 14, 2018


Baiklah kembali lagi pada cerita si perempuan gila. Kali ini ia banyak diam, mengatup rapat bibirnya seperti kedapatan kutukan dari Sang Medusa. Barangkali ini sebuah langkah yang cukup untuk membunuh waktunya bercengkerama dengan tanah Karimunjawa. Sepiring pindang serai, semacam makanan kebanggaan orang Jepara cukup membawa gairah menyenangkan dalam dirinya.
Sepiring Pindang Serai
Hari itu ia habiskan dengan berkeliling mengitari Pulau Kemujan. Memang kala itu suasana sedang sepi-sepinya. Hanya sedikit manusia berwujud wisatawan yang bertandang di pantai-pantai sana.
Ada sebuah pantai tenang  berteman sebatang pohon cemara. Sepi, sungguh sangat sepi. Hanya ada alunan gelombang memecah pantai dan suara riang kerang-kerang tersandar di pantai. Tiada orang yang menapaki pasir putih di pantai itu, hanya seorang nelayan. Dengan uniknya ia menata sampan membentuk sebuah barisan segitiga di pantai. Ketiganya saling bergerak berirama menuruti datang dan perginya gelombang dari pantai.
Barisan Tiga Sampan
Pohon Cemara Di Tepi Pantai 
Alunan Kerang
Lain lagi ketika ia menyusuri sekitar Kampung Bugis yang dengan bangganya menyombongkan deretan khas rumah panggungnya. Sialnya Kampung Bugis ini berhasil merayu si perempuan gila untuk berfantasi menginginkan sebuah rumah panggung di tepi pantai menghadap matahari terbenam, seperti dalam cerita “Sepotong Senja Untuk Pacarku.” Sehingga ia tak perlu melewatkan kenangan ketika matahari melintasi garis cakrawala yang diselimuti lautan bebas. Di sisi lain, Kampung Bugis menyimpan sebuah pesona pantai yang cukup sulit dilewati. Ialah Pantai Batu Pengantin. Dan lihatlah kedua batu beriringan layaknya sepasang pengantin yang menghadap luasnya Laut Jawa.
Perjalanan Menuju Pantai Batu Pengantin
Pantai Batu Pengantin
Pantai Batu Pengantin
Terlihat Pasangan Batu
Si Perempuan Gila dan Batu Pengantin
Rumah Panggung Kampung Bugis
Tak jauh-jauh dari bandara. Ia juga singgah sejenak menikmati kilauan karang yang terlihat jelas dari atas Dermaga Pantai Batu Putih. Benarlah kendati demikian, kejernihan air laut Karimunjawa tak mampu terbantahkan.
Pantai Batu Putih
Dermaga Pantai Batu Putih
Sampai pada akhirnya ia bertandang ke Pantai Bunga Jabe yang tak pernah gentar membanggakan seni khas Bugisnya. Kala itu tiada pengunjung. Pasukan angin melintasi pantai, cukup meninabobokannya hingga terlelap.
Pintu Masuk Pantai Bunga Jabe
Tiket Masuk Pantai Bunga Jabe
Penginapan di Pantai Bunga Jabe
Pohon Kelapa Melengkung di Bunga Jabe
Spot yang Bikin Ngantuk
Sampai tiba akhirnya, waktu senja terakhir yang dinanti-nanti. Kembali lagi ia menyaksikan Dermaga Mrican ditambah gurauan anak-anak pantai yang berenang bahagia. Kali ini ia tak berdiri tenang di atas dermaga untuk menikmati senja, melainkan bermain dengan sampan mengitari dermaga.
Dermaga Mrican
Anak-anak Bermain
Hempasan gelombang kecil cukup menggelitik sampan yang ditumpangi si perempuan gila. Di atas sampan, ia cukup menikmati saat-saat dimana matahari berjalan turun mendekati cakrawala dan sinarnya mempengaruhi kilauan laut seperti membentuk cairan keemasan. Ada seseorang di dalam sampang sambil memegangi dayung, berlatar belakang senja dalam tatapan si perempuan gila.
Dengan ketusnya si perempuan gila berbincang, “Kau memang ulung ya, merayu para dewa-dewa untuk membuatku terlena pada dunia Karimunjawa ini. Cukup jahat, aku tak mampu memperpanjang waktu di sini.”
Ia menjawab dengan sikap tawanya memperhatikan bibir si perempuan gila itu. Dan waktu terus berjalan. Segerombolan pasukan burung beterbangan meninggalkan pantai dan anak-anak Kemujan berlarian menghampiri orang tua yang mencari mereka.
Senja dari Atas Sampan
Matahari Mendekati Cakrawala
Malamnya, si perempuan gila kembali pada Dermaga Mrican. Seperti tak mengharapkan perpisahan, ia tidur beralaskan lantai kapal yang bersandar pada dermaga, sambil bersenda gurau menatap langit. Ia mengingat-ingat akan rasi bintang dan Mitologi Yunani atas kekuasaan Dewa Zeus pada sang langit.
 Ada sebuah cerita tentang bintang Polaris yang selalu menunjuk ke utara. Konon katanya, para penjelajah samudera terhebat di dunia dahulu berpedoman pada bintang utara itu kala mereka berlayar. Namun sayangnya dalam setengah perjalanannya bintang itu menghilang, sebab mereka telah masuk dalam belahan bumi selatan.
Kau tahu bintang polaris ada di langit Karimunjawa? Tentu saja tidak. Hey sadarlah, Karimunjawa menopang pada belahan bumi selatan.
Langit Malam Hari di Atas Dermaga
Sampai tiba waktunya pagi datang. Tandanya, si perempuan gila harus meninggalkan Karimunjawa. Ia sempat gelisah memikirkan tentang bagaimana jika ia tak melihat langit itu kembali? Ia tak lagi menepiskan napasnya yang bertemu udara segar Karimunjawa, dan lagi tak mendengar alunan suara gelombang terpecah di pantai.
Beberapa kali ia melamun di perjalanan menuju Pelabuhan Karimunjawa. Hingga ia tersadar akan sebuah pelangi mengiringi kepulangannya. Sebuah pelangi yang menjulang seperti jembatan berwarna menuju taman nirwana di tengah Laut Jawa. Ia semakin yakin, para dewa-dewa tak menginginkan kepergiannya. Para dewa-dewa masih ingin merayunya untuk tetap menatap langit Karimunjawa.
Dan Inilah Pelanginya
Hingga akhirnya pelangi mulai memudar, kapal siap berlayar ke tanah Jawa. Si perempuan gila kembali tertawa melihat seseorang di sampingnya. Ia bersahut, “Sudahlah tak perlu menggodaku. Aku akan memnuntut tanggung jawabmu kalau otakku mulai mati kaku merindukan tempat ini.”
Langit Karimunjawa yang Bikin Rindu
Dan si perempuan gila itu berbalik arah, berlari menuju kapal. Selamat tinggal Karimunjawa, kau mampu menaklukkan akal sehatnya. Hingga kini, rindu akan rayuan Pulau Karimunjawa masih terasa.




Gracias,



Kartikanofi



  • Share:

You Might Also Like

5 komentar

  1. What a nice stories....pelanginya cakep bangetttt jadi pengen main ke karimunjawa😍😍

    Xoxo,
    Jeenatassya.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, yuk yuk main karimunjawa. Aku temenin πŸ˜‚πŸ˜‚, jadi kecanduan main di karimunjawa

      Hapus
  2. Spot fotonya bagis-bagus, terutama di Bunga Jabe dan Batu Putih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benarkah? Kuy main karimunjawa 😊😊

      Hapus
  3. Rinduku semakin menggila
    Melihatmu dari kejauhan
    Bayangan yang tak tentu nyata
    Karimunjawa, semoga kasihku sampai ke jepara.

    Ada apakah gerangan bugis dengan jepara?:)

    BalasHapus

Please leave a comment and I'll be back to visit your page. Let's make a bingo!