SORE HARI DI ASIATIQUE BANGKOK

Maret 17, 2019


Sepertinya aku harus banyak belajar pada Muslim Traveller yang sudah handal dan terbiasa melancong ke negara dengan muslim minoritas. Rasanya terlalu sulit mencari tempat dan mengatur waktu ibadah.

Seperti waktu kunjungan kami ke Thailand. Dalam perjalanan kami di Thailand hanya menemukan satu masjid yang membuat kami langsung bergegas mengambil air wudhu, Bang Uthit Mosque namanya. Terletak di seberang pintu masuk Asiatique, lalu belok ke kanan sedikit. Di sana juga menjadi tempat berkumpul orang-orang Timur Tengah dan menyediakan restoran khusus masakan halal.
Bang Uthit Mosque yang Terletak di Depan Pintu Masuk Asiatique
Usai menjamak waktu sholat, kami bergegas menuju pintu masuk Asiatique. Sebagai turis norak, hal pertama yang diincar begitu menginjakkan kaki di lantai Asiatique adalah mencari bianglala setinggi 60 meter atau biasa disebut “Bangkok Eyes” yang tersohor sebagai landmark Asiatique.  Bah, namanya menyerupai bianglala di Kota London saja.

Aku melihat arah barat, sambil mengintip matahari dari sela-sela shopping center yang berjejeran, khawatir batangkali tak kedapatan momen sunset di Kota Bangkok. Padahal sempat tergoda dengan pernak-pernik lucu dan kafe-kafe Asiatique yang menggemaskan. Tetapi, begitu Bangkok Eyes tepat di depan mata, aku malah enggan menaikinya setelah melihat harga tiket yang melejit yaitu Rp160.000 dengan tiga putaran. Ah, mending skip saja. Dasar memang, nggak browsing harga dulu sih.
Bianglala Asiatique atau Bangkok Eyes
Tatapan kami justru teralihkan ketika melihat Sungai Chao Phraya yang berwarna coklat dan bergelombang. Letaknya sisi kanan Bangkok Eyes, hanya perlu berjalan sedikit. Di sana juga menyediakan aktivitas Dinner Cruise di atas Sungai Chao Prhraya yang harga tiketnya sebesar Rp450.000, dapat direservasi dari jauh-jauh hari juga melalui aplikasi KLOOK. Lagi-lagi aku enggan mengeluarkan banyak uang, cukup menikmati sunset di tepi sungai yang dipagari besi saja rasanya sudah puas. Tempat ini biasa disebut Asiatique Riverfront.
Dinner Cruise di Atas Sungai Chao Phraya
Tak hanya menikmati sunset saja, tetapi juga street food ala Asiatique Riverfront juga patut dicoba. Mereka menjual berbagai macam makanan khas Thailand, terutama Tom Yum, Pad Thay, Mango Sticky Rice, bahkan ada pula yang menjual BUAYA PANGGANG. Bayangkan BUAYA PANGGANG yang baunya sangat sedap tetapi menyeramkan. Namanya juga buaya, siap disantap pun tetap saja menyeramkan.
Street Food di Asiatique Riverfront

Inilah Buaya Panggang
Di Asiatique pula pengunjung dapat membeli oleh-oleh lengkap dengan baju-baju, aksesoris dan camilan khas Thailand. Tapi aku tidak menyarankan untuk membeli oleh-oleh di tempat ini karena harganya terbilang mahal dibanding Pratunam dan Chatuchak Market.

Sepulang dari Asiatique, kami memesan Grab. Di tengah jalan, sang supir memutuskan secara sepihak untuk mengajak kami berkeliling Kota Bangkok, padahal kami sudah kelelahan. Beliau mengajak kami melihat Flower Market, Grand Palace, Wat Pho, kediaman resmi raja sampai Chinatown Bangkok. Beliau tak bisa berbahasa Inggris, alhasil beliau memanfaatkan aplikasi chat Grab yang secara otomatis bisa diterjemahkan dari Bahasa Thailand ke Bahasa Indonesia. Yah begitulah, di dalam mobil kami dan supir Grab serasa orang pacaran yang bertengkar namun saling gengsi untuk berbicara langsung.
Lantai Peta Thailand


You Might Also Like

2 komentar

  1. Viewnya keren sekali mbak, ada masjid dan restaurant halal jadi nggak bingung,....btw buaya panggangnya bikin penasaran nih

    BalasHapus
  2. Jadi, nyobain buaya panggang, nggak?

    BalasHapus

Please leave a comment and I'll be back to visit your page. Let's make a bingo!