Quarter Life Crisis

September 21, 2021

"Umur 25 tahun kamu merasa belum jadi apa-apa? Khawatir dengan hidup kamu?"

Telat merasakan tahap hidup ini. Aku mulai khawatir tentang hidupku di umur 27 tahun.

"Kok hidupku gini-gini aja, ya?"

"Kok belum ada achivement selama ini, ya?"

"Lima tahun lagi mau ngapain, ya?"

Ditambah dengan pandemi, banyak banget merasa kehilangan. Mulai finansial, relationship, kerjaan yang gini-gini aja, sampai kaki cedera yang aku sendiri tidak tahu akan sembuh atau tidak.

Berada di posisi Lost dalam hidup itu sangat susah, seperti terjatuh tapi kakiku belum kuat berdiri. Ternyata menjadi ikhlas itu butuh effort, menjadi menerima keadaan itu butuh effort, menjadi orang yang bilang nggak papa itu butuh effort. Belajar menahan diri itu butuh effort. Ditambah terbiasa tidak bisa melampiaskan kemarahan, ingin menangis tapi susah mengeluarkan air mata.

Musim gugur akan berubah jadi musim semi. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Daun yang gugur akan tumbuh dan berbunga. Akan ada saat di mana sakit jadi sembuh. Tapi berada di posisi proses menyembuhkan diri itu memuakkan. Setiap bangun dari tidur selalu mempertanyakan, "kapan hari-hari menyebalkan ini selesai?"

Seperti berusaha menutup pintu dan jendela jika merasa di luar terlalu dingin. Tapi berada di rumah sendiri ketika di luar sedang badai apakah menyenangkan? Apakah Lost itu akan hilang ketika musim semi?

Beginilah berada di tahap proses menyembuhkan diri. Tidak tahu sampai kapan, tidak paham cara melampiaskan, berada dalam status ketidakpastian hidup. Menulis bisa menyembuhkan, tapi ia cuma sebagai obat penenang sementara. Jika membuka mata, hari-hari menyebalkan itu terjadi lagi.

You Might Also Like

0 komentar

Please leave a comment and I'll be back to visit your page. Let's make a bingo!